Air Terjun Temam Lubuklinggau

Niagara mini versi Indonesia, yup barangkali itu julukan yang pas untuk air terjun yang terletak di Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan ini. Ya inilah air terjun yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya (tentang Air Terjun Bedegung). Baru kali ini sempet nulis postingan tentang air terjun Niagara Mini Lubuklinggau. 

Air Terjun Temam

Nama sebenarnya dari Air Terjun Niagara Mini ini sih Air Terjun Temam, obyek wisata ini tepatnya terletak di Kelurahan Air Temam, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I. Jaraknya sekitar 11 km dari pusat kota Lubuklinggau. Jika anda ingin berkunjung ke air terjun ini, bisa ditempuh dengan menggunakan mobil atau motor. Akses jalan menuju obyek wisata Air Terjun Temam ini lumayan bagus dan sudah beraspal. Selain itu, anda pasti tidak akan bingung untuk menuju obyek wisata ini karena rambu petunjuk jalan akan memandu anda sampai ke Air Terjun Temam.

Tinggi Air Terjun Temam ini hanya sekitar 12 meter dengan lebar kurang lebih 25 meter. Dengan aliran air yang jernih dan suasana pepohonan yang masih rindang di sekitarnya, cocok sekali untuk sekedar menenangkan diri dan memanjakan mata dengan pemandangan yang asri. Air terjun ini alami, jadi bukan replika buatan manusia yang sengaja didesain mirip air terjun Niagara. Istilah air terjun "Niagara Lubuklinggau" itu hanya sebutan dari mulut ke mulut yang memang mirip dengan air terjun yang ada di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada namun dalam versi mini (pernah masuk ulasan di detik travel juga lho). 

Oh ya, di area air terjun itu juga ada jembatan gantung yang melintasi di atas sungai. Dari atas jembatan itu kita bisa melihat pemandangan air terjun. Tapi awas jembatan ini hanya bisa menopang maksimal 8 orang untuk sekali menyebrang.
Air Terjun dari Atas

Jembatan Gantung Air Terjun Temam


Jembatan Gantung Temam

Segerr

Tangga ke air terjun

Nampaknya pemerintah setempat sudah mulai memperhatikan potensi wisata ini. Hal ini terbukti saat saya berkunjung ke sana, fasilitas pendukung mulai dibangun mulai dari lahan parkir pengunjung, toilet, mushola, jalan setapak dan tangga terbuat dari beton. Semoga saja obyek wisata ini akan dikelola dan dipelihara dengan baik. So, kalo anda sedang ada di sekitaran Lubuklinggau saya rekomendasikan mampir sebentar ke Air Terjun Temam. Gak usah jauh-jauh ke Amerika Serikat atau Kanada, di Lubuklinggau ada versi mininya.

Terbanglah yang tinggi kawan

Melihat kawan atau sahabat meraih suatu prestasi, tentunya adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Tapi mungkin di sisi lain kita hanya bisa menggerutu pada diri sendiri, "kenapa saya tidak bisa melakukan hal yang sama?". Perasaan bahagia dan kecewa mungkin sering kita rasakan. Tapi bagaimana pun prestasi yang dicapai seseorang memang perlu diapresiasi. Lalu bagaimana kita harus menyikapi keadaan seperti itu?.

source: http://www.comicvine.com
Kalo aku sih pada dasarnya malah terpacu apabila ada rekan sejawat yang memiliki prestasi luar biasa. Entah kenapa ada dorongan dalam diri untuk membuktikan bahwa saya juga bisa berprestasi. Ya meskipun prestasi yang dibuat tidak sama atau bahkan berbeda bidang. Selalu terpintas dalam diri "kalau dia bisa, kenapa saya tidak". 

Saya bersyukur pernah diberi kesempatan untuk mengenal berbagai teman yang luar biasa dalam hidup saya. Disini saya tidak bermaksud menyombongkan diri karena memiliki teman-teman yang menurut saya hebat. Apalah  gunanya memamerkan prestasi orang lain tapi diri sendiri tidak bisa berprestasi. Kalo orang yang berprestasi menyombongkan diri mungkin ada sisi kewajarannya (meskipun seharusnya gak boleh gitu juga), nah ini yang berprestasi orang lain tapi malah kita yang tidak berprestasi "ndompleng" sombong, ^^. Jangan begitulah. Sekali lagi, tulisan saya ini hanya sekedar berbagi perspektif atas keadaan yang sering kita alami dalam hidup.

Di usia saya saat membuat tulisan ini yaitu 24 tahun, sudah ada rekan saya yang berhasil lulus S-2 di salah satu universitas yang tidak bisa dianggap main-main. Menurutku itu suatu pencapaian yang luar biasa, padahal kami start bersama-sama dari bangku SMP. Sedangkan saya saat ini baru sampai pada jenjang D-3. Mau lanjut kuliah sih, tapi peraturan di instansi saya mengizinkan melanjutkan kuliah asal sudah bekerja beberapa tahun. Memang suatu keanehan, kenapa untuk melanjutkan belajar saja ditahan-tahan. Sebenarnya kalau mau kuliah gak papa sih, karena sejatinya pendidikan adalah hak setiap warga negara. Tapi yang bikin "nyesek", kalo kita gak nurutin aturan tadi kuliah kita tidak akan diakui oleh instansi. Repot. Sudahlah, semoga ada aturan yang lebih bijaksana terkait hal ini nantinya (semoga). 

Oke menyambung tentang teman saya yang lulus S-2 tadi, nah melihat prestasi yang cemerlang seperti itu diraih oleh seorang kawan, tentunya ada rasa kebanggaan tersendiri. Nah disini lah, entah kenapa timbul dorongan pada diri, suatu saat saya pasti akan sampai pada titik yang telah ia capai sekarang.  Tapi entah kapan, yang penting sudah ada niatan mencapainya. 

Ada lagi sahabat saya yang meraih salah satu penghargaan pengusaha muda. Bahkan sampai sering muncul di berbagai media. Memang luar biasa bakat bisnisnya, tidak heran dia bisa meraih prestasi itu. Terakhir melihat dia sedang berdiskusi dan berjabat tangan dengan salah satu menteri di republik ini. Ya meskipun sebenarnya kalo soal jabat tangan dengan menteri sih saya juga sudah pernah, tapi tentunya saya tanpa ada prestasi yang membuat seorang menteri sampai jauh-jauh mendatangi hanya untuk berdiskusi dan berjabat tangan alias hanya kebetulan saja. Eits, malah bahas tentang salaman nih. Kembali ke topik tentang prestasi teman saya yang berhasil menjadi pengusaha muda sukses. Nah lalu di usia yang sama saya masih berkutat dengan bekerja di layar monitor. Dan melakukan pekerjaan yang sama tiap harinya. Tentu dari sisi finansial tidak ada apa-apanya dibanding kawan saya tadi. Tapi yang jelas semua tetap saya syukuri. Namun lagi-alagi pasti ada dorongan dalam diri untuk membuktikan "kalo dia bisa, kenapa saya tidak". Suatu saat pasti saya bisa mencapai titik yang telah dia capai. Amiin.

Sebenernya masih banyak juga kawan-kawan yang memiliki prestasi atau mungkin orang lain yang menginspirasi, tapi mungkin akan menjadi bosan kalo saya tulis satu per satu. Nanti malah kesannya malah menyombongkan prestasi orang lain seperti yang saya singgung di depan tadi. Oke, kesimpulan dari beberapa penggal prestasi kawan-kawan tadi kalo menurut perspektif diri saya ya kalau ada orang lain (terutama sahabat) yang meraih prestasi ada kecenderungan/dorongan untuk membuktikan diri bahwa kita juga bisa. Dengan demikian semakin tinggi prestasi yang didapat orang-orang di sekitar kita, justru membuat kita semakin ingin mencapai titik yang sama atau bahkan lebih. Menurutku ini bukanlah suatu hal yang negatif, toh kita juga tidak didasari rasa iri atas prestasi dia. Justru ini adalah hal yang positif karena kita terpacu untuk lebih mengembangkan diri dan berprestasi. 

Yup, semakin tinggi terbang kawan-kawanmu kejarlah dia, suatu saat kamu tidak akan menyadari kalau kamu ternyata sudah ikut terbang tinggi sampai berada di titik yang sama dengan mereka atau mungkin lebih tinggi. Kalau kamu mengeluh bagaimana caranya terbang karena kamu tidak punya sayap, lihat kawanmu yang sudah jauh tinggi dia tak perlu sayap untuk menuju titik itu.