Sejarah Piala FA

Tentunya bagi pencinta sepak bola apalagi yang sering mantengin sepak bola daratan Inggris pasti sudah kenal dengan kompetisi FA Cup atau Piala FA. Nama kompetisi ini diambil dari nama federasi sepak bola di Inggris yaitu Football Association (disingkat FA). Kompetisi ini sudah diselenggarakan sejak tahun 1871. Pada awal digelar kompetisi ini hanya diikuti 17 klub. Dengan juara pertamanya adalah Wanderes, klub yang didirikan oleh orang-orang sekolah negeri dan diperkuat pemain dari universitas. Di Final mereka mengalahkan Kennington Oval dengan skor 1-0 (gol dicetak Morton Betts). Setelah 130 tahun lebih, piala FA diikuti lebih dari 600 klub, mulai dari klub Premier League sampai divisi amatir di Inggris.

Sistem kompetisi piala FA adalah sistem gugur. Namun jika terjadi hasil imbang, maka akan diadakan pertandingan kedua di tempat yang berbeda. Dalam pertandingan kedua harus sudah ditentukan pemengnya untuk melaju ke fase berikutnya (sekalipun dengan pinalti).

Ada beberapa hal-hal unik seputar kompetisi FA Cupa ini. Diantaranya adalah:
  1.  Kompetisi FA Cup ini diklaim sebagai kompetisi tertua di seluruh dunia.
  2.  Trofi  yang diperebutkan dalam kompetisi ini ternyata bukan merupakan piala aslinya. Piala tersebut hilang saat dipajang di sebuah tempat di Birmingham ketika Aston Villa menjadi juaranya. Dan hingga kini piala asli tersebut tidak pernah ditemukan kembali.
  3.  Sejak tahun 1923, final piala FA diadakan di Stadion Wembley yang merupakan simbol sepak bola Inggris. Namun pada tahun 2001-2006 final Piala FA dipindahkan ke Millenium Stadium, Cardiff karena Wembley sedang direnovasi.
  4.  Manchester United adalah klub yang memiliki gelar terbanyak saat ini dengan koleksi sebanyak 11 gelar. Daftar klub pemenang Piala FA dapat dilihat dibawah.
  5.  Sepanjang sejarahnya, rekor gol terbanyak yang dicetak dalam satu pertandingan masih dipegang oleh Nottingham Forest. Rekor ini dicatat Forest pada musim 1890-1981 saat mengalahkan Clapton, dengan skor 14-0.
  6.   Salah satu final yang menarik adalah 3 gol di masa injury time. Hal ini terjadi pada final tahun 1979 saat Arsenal mengalahkan Manchester United 3-2. Pada babak pertama Arsenal unggul 1-0, kemudian diperbesar menjadi 2-0 di pertengahan babak kedua. Namun dalam waktu 2 menit di penghujung babak kedua, Manchester United berhasil menyamai skor menjadi 2-2, sebelum gol dari Alan Sunderland semenit kemudian untuk membuat Arsenal menang.
  7.    Final tahun 2006, saat Liverpool menjungkalkan West Ham lewat adu penalti, dianggap sebagai salah satu final terbaik. Kala itu, Liverpool yang difavoritkan tertinggal lebih dulu sebelum pada masa injury time babak kedua Steven Gerrard menyamakan kedudukan. Namun "The Reds" kemudian bisa memaksakan skor imbang 3-3 dan akhirnya menang lewat adu penalti.
Daftar Pemenag Piala FA
  1. Manchester United, jumlah trofi 11;
  2. Arsenal, 10;
  3. Tottenham Hotspur, 8;
  4. Liverpool, Aston Villa, masing-masing 7 trofi;
  5. Chelsea, Newcastle United, Blacburn Rovers, masing-masing 6 trofi;
  6. Manchester City, Everton, West Bromwich Albion, Wanderes, masing-masing 5 trofi;
  7. Bolton Wanderes, Sheffield United, Wolverhampton Wanderes, masing-masing 4 trofi;
  8. Sheffield Wednesday, West Ham United, masing-masing 3 trofi;
  9. Bury, Nottingham Forrest, Old Etonians, Preston North End, Sunderland, Portsmouth, masing-masing 2 trofi;
  10. Barnsley, Blackburn Olympic, Blackpool, Bradford City, Burnley, Cardiff City, Charlton Athletic, Clapham Rovers, Coventry City, Derby County, Huddersfield Town, Ipswich Town, Leeds United, Notts County, Old Carthusians, Oxford University, Royal Engineers, Southampton, Wimbledon, masing-masing 1 trofi
Sumber: Wikipedia, Google.

Sejarah Piala Carling


Piala Carling adalah sebutan untuk Piala Liga di Inggris atau The Football League Cup. Salah satu kompetisi yang sepak bola yang terkenal di daratan Inggris selain Piala FA dan tentu saja Premier League. Kompetisi ini dibentuk pertama kali pada tahun 1960 dengan sekup wilayah Inggris dan Wales. Piala Carling ini diikuti oleh 92 klub, dengan 20 klub berasal dari Premier League dan 72 lainnya dari The Football League. 

Format kompetisinya hampir sama dengan piala FA, yaitu menggunakan sistem gugur, tetapi terdapat sedikit perbedaan dimana saat semifinal dimainkan dalam 2 pertandingan home and away. Juara dari kompetisi ini akan mewakili Inggris dalam Liga Eropa (UEFA Cup). Apabila juara Piala Carling tersebut lolos mengikuti Liga Champions (kompetisi Eropa di atas UEFA Cup), maka hak juara untuk mewakili Inggris dala UEFA Cup akan diberikan kepada klub yang berhasil memperoleh nilai tertinggi dalam Premier League yang tidak lolos dalam kompetisi sepak bola Eropa. 

Nama Piala Carling sendiri ternyata diambil dari nama perusahaan sponsornya. Piala Liga ini diberi nama berdasarkan sponsornya mulai tahun 1982.
Sejak 1982, Piala Liga diberi nama berdasarkan sponsor:
  • Milk Cup (1981–82 sampai 1985–86), disponsori oleh Milk Marketing Board
  • Littlewoods Challenge Cup (1986–87 sampai 1989–90), disponsori oleh Littlewoods
  • Rumbelows Cup (1990–91 dan 1991–92), disponsori oleh Rumbelows
  • Coca-Cola Cup (1992–93 sampai 1997–98), disponsori oleh Coca-Cola
  • Worthington Cup (1998–99 sampai 2002–03), disponsori oleh Worthington Draught bitter
  • Piala Carling (2003–04 sampai 2012), disponsori oleh Carling
Klub tersukses dalam sejarah Piala Liga ini adalah Liverpool, dimana sepnjang keikutsertaanya dalam kompetisi ini telah berhasil meraih 7 gelar juara.

Penantian

Sebuah kata yang mungkin terdengar membosankan apalagi untuk dijalani. Penantian memang suatu yang sangat menjengkelkan. Kalau mendengar kata ini yang terbayang hanya suatu kejenuhan. Tapi terkadang hal tersebut memang harus dilakukan, karena memang di dunia ini semua membutuhkan penantian. Bahkan kilatan petir yang sangat cepat sekalipun membutuhkan jeda untuk cahayanya dapat terlihat dengan mata kita. Namun terkadang juga saya berpikir, apakah sebetulnya penantian itu mutlak harus dilakukan? Apakah kita harus menunggu atau menanti sesuatu yang ingin kita capai datang sendiri? Apakah kita bisa menghapus penantian?

Sejenak merenung untuk menjawab pertanyaan tadi. Ternyata memang penantian itu diperlukan tetapi tidak mutlak, untuk mencapai apa yang kita inginkan tidak harus dengan menanti dan menunggu hal itu datang dengan sendirinya. Namun dengan cara berlari mengimbagi penantian itu sendiri. Karena, ternyata memang penantian tidak dapat dihapus. 

Penantian selalu ada dalam setiap sisi kehidupan. Mulai dari sel telur yang menunggu beberapa hari untuk menjadi matang dan siap dibuahi. Setelah itu masih menanti datangnya sperma untuk membuahi sel telur tadi. Penantian masih berlanjut ketika sel telur dan sperma bersatu menjadi embrio dalam rahim ibu yang merupakan cikal diri kiat. Bahkan penantian itu berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan sampai dengan kelahiran kita menatap dunia ini dengan jeritan. Setelah itu kita masih menanti untuk bisa berbicara, berjalan dan berlari. Sampai akhirnya kini kita berdiri menghadapi kehidupan. 

Lalu bagaimana jika kita dihadapkan dengan sesuatu hal yang ingin kita capai namun dalam mencapainya kita memerlukan penantian. Pastinya setiap orang memiliki sesuatu hal yang ingin dicapai. Namun banyak yang berpikir (termasuk saya) bahwa untuk mencapai sesuatu itu dibutuhkan penantian. Dan ternyata untuk mencapai sesuatu yang diinginkan tidak harus dengan menanti. Menanti hanya menunda diri kita untuk mencapai sesuatu yang lebih dekat dengan keinginan itu. Untuk mencapai sesuatu yang diinginkan tersebut kita harus berlari mengimbangi penantiaan untuk mencapai sesuatu itu sendiri. Agar penantian kita tidak hanya diam menunggu sesuatu itu datang dengan sendirinya.  Melainkan harus dikejar dan disambut! 

Walaupun demikian unsur penantian memang selalu tidak lepas dari setiap usaha mengejar apa yang diinginkan. Yang terjadi sebenarnya adalah kita mengisi waktu penantian untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dengan berusaha mendekatkan pada apa yang kita inginkan tersebut. Sehingga secara tak terasa kita seperti menghilangkan penantian tersebut dan menggantikannya dengan usaha mendekatkan pada sesuatu yang ingin dicapai. Dan pada akhirnya memang “penantian” akan selalu mengiringi setiap laju kehidupan kita. Bahkan sampai mati pun kita masih akan terus dihadapkan dengan penantian, penantian akan hari kebangkitan.