Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Doa Orang Tua Menembus Langit, Membelah Bumi

Saya adalah anak dari seorang Pak Tani dan seorang Ibu Penjual Jamu. Bapakku dulunya sebenarnya seorang pedagang (pedagang bakso tepatnya) tetapi setelah kakekku sakit, lebih tepatnya terkena stroke, Bapak memutuskan mengurus Kakek dan meninggalkan pekerjaan dagangnya yang saat itu sebenarnya sedang laris-larisnya. Bahkan saat itu dengan "hanya" berdagang bakso gerobak, Bapak bisa membeli tanah dan membangun rumah. Bukan sombong, tapi wujud apresiasi dan kebanggaan atas kerja keras seorang Bapak yang mencari nafkah untuk keluarganya. Bapak meninggalkan usaha baksonya untuk mengurus kakek sampai kakek meninggal dunia. Dan akhirnya, Bapak mengurus sawah kakek sampai saat ini. Ya, menjadi seorang petani.  Pokoknya luar biasa pengalaman hidupnya, lain kali ingin saya tulis tersendiri cerita Bapak saya di blog ini. Sejak saat itu otomatis perekonomian keluarga mulai lesu. Ibu tetap merantau di kota dengan berjualan jamu. Jamu gendong, dengan botol yang ditaruh dalam "tenggok" (wadah yang terbuat dari anyaman bambu). Tidak kalah luar biasanya perjuangan hidup beliau, suatu saat akan saya tulis tersendiri kisah Ibu saya. Masa-masa sulit pun kami lalui bersama-sama sekeluarga. Untuk makan saja kadang harus meminjam sana sini. Pernah juga dulu karena tidak punya uang cukup untuk membeli buku sekolah, saya memutuskan memfotokopi buku dengan meminta memakai kertas buram, diperkecil dan bolak-balik. Saking ngiritnya waktu itu. Iuran bulanan sekolah (dulu namanya SPP) pun sering nunggak, sehingga bayarnya pun dirapel ketika mau ujian. Karena waktu itu kita tidak boleh ikut ujian kalau belum membayar SPP. Entah dari mana kedua orang tua mendapatkan uang untuk merapel bayar SPP demi anaknya dapat ikut ujian. 

Dari sisi pendidikan, kedua orang tua saya memang kurang. Bapak dan Ibu sama-sama tidak lulus sekolah dasar, penyebabnya adalah karena faktor ekonomi. Mungkin orang tua dari Bapak dan Ibu (kakek dan nenek saya)  masih berpandangan bahwa anak laki-laki yang penting bisa ngurus sawah dan anak perempuan harus bisa urusan dapur, selebihnya dianggap tidak penting termasuk pendidikan. Namun demikian semangat belajar beliau tinggi. Bapak saya walau tidak selesai SD, tapi  soal hafalan surat-surat Al Quran dan doa beliau jagoan. Tidak heran beliau diangkat menjadi salah satu pengurus masjid di kampung, dan hobinya sampai saat ini adalah membaca. Jangan heran, buku beliau banyak sekali yang disimpan di meja kamar maupaun lemari. Ibu saya juga demikian, walau tak lulus SD, setidaknya untuk baca tulis sudah mahir, bahkan sekarang sudah bisa sms-an...hehe. Namun pandangan kedua orang tua saya berbeda 180 derajat dengan kakek nenek. Kedua orang tua saya berpandangan, bahwa pendidikan adalah hal yang paling penting. Meski mereka tidak lulus SD, mereka ingin anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

Kedua orang tua rela banting tulang dan bekerja luar biasa hanya agar anak-anaknya dapat bersekolah. Bagaimana tidak luar biasa, Ibu berjalan kaki beberapa kilometer setiap hari dengan mengendong "tenggok" jamu hanya untuk mencari rejeki. Bapak pun demikian, awalnya menjadi pedagang bakso dan sekarang menjadi petani di kampung halaman. Alhamdulillah, usaha bapak dan ibu membuahkan hasil yaitu kakak saya dapat menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Tentu saja hasil tersebut tidak hanya karena kerja keras Bapak dan Ibu, melainkan juga doa beliau yang tiada henti dipanjatkan kepada ALLAH SWT.

Bagi saya doa Bapak dan Ibu adalah syarat utama setiap saya akan menghadapi segala hal, tentunya juga harus diiringi dengan usaha keras. Ibarat prajurit yang akan maju dalam pertempuran, mereka harus memiliki senjata untuk menaklukkan musuhnya. Bagi saya, senjata sebelum menghadapi segala sesuatu adalah doa orang tua selebihnya tinggal usaha dan kehendak Yang Maha Kuasa. Dahsyatnya doa kedua orang tua sudah saya rasakan sendiri. Saat lulus SMA, harapan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (negeri) menjadi impian. Banyak tes saya ikuti tentunya diawali dengan meminta restu dan doa kedua orangtua. Singkat cerita saya gagal di beberapa tes masuk perguruan tinggi. Saat itu pun kondisi ekonomi keluarga memang pas-pasan namun Bapak dan Ibu tetap mendorong saya harus tetap melanjutkan pendidikan tinggi.

Akhirnya doa orangtua terkabul saya diterima di perguruan tinggi negeri di Solo dan di saat yang hampir bersamaan saya juga dinyatakan diterima di salah satu perguruan negeri kedinasan. Meskipun saat itu kami sudah membayar uang masuk perguruan tinggi negeri, tentu dari uang hasil pinjam sana sini oleh kedua orangtua. Bapak dan Ibu tetep mendorong saya untuk masuk ke perguruan negeri kedinasan. Awalnya sempat ragu, karena meski kuliahnya gratis tapi sistem pendidikannya ketat, apabila kita tidak bisa memenuhi nilai yang ditentukan setiap semesternya, maka harus siap angkat kaki dari kampus itu alias DO (drop out). Atas dorongan dan restu orang tua saya pun berangkat menempuh pendidikan di perguruan kedinasan tersebut. Betapa setiap saya merasa pusing, bingung dan takut menghadapi perkuliahan ataupun dosen yang killer saya selalu menelepon kedua orang tua agar senantiasa mendoakan saya. Pun, ketika saya melaksanakan UTS atau UAS, meminta doa sebelum ujian itu wajib hukumnya bagi saya. Entah mengapa seolah-olah beban keruwetan di kepala hilang ketika mendengar restu kedua orang tua. Seperti ada keyakinan bahwa besok saya pasti bisa mengerjakan. Hal tersebut berulang sampai saya akhirnya lulus pendidikan dan harus bekerja di luar pulau kelahiran saya. Saat sudah 2 tahun bekerja, ada kesempatan mengambil beasiswa dan saya pun memanfaatkan peluang yang ada tersebut, sebenarnya tidak banyak berharap dan tidak "pede" juga bisa lulus. Tapi, sekali lagi, setiap sebelum melaksanakan tahapan ujian saya selalu meminta doa kedua orangtua dan diiringi usaha , alhamdulillah bisa lulus.

Cerita di atas hanya sedikit contoh dari dahsyatnya doa orang tua. Ridhollah fi ridhol walidain, ridho Allah tergantung ridho orang tua. Maka jangan sekali-kali menyepelekan doa orang tua, karena kehendak Allah SWT tergantung ridho orang tua. Doa orang tua bak menembus langit dan membelah bumi. Kekuatan super power doa orang tua sudah banyak diceritakan diberbagai dongeng misalnya Malin Kundang, Batu Menangis dll. Dongeng-dongen tersebut menceritakan murka seorang ibu pada anaknya yang durhaka. Karena doa/kutukan sang ibu maka si anak berubah jadi batu. Entah benar atau tidak cerita tersebut, yang jelas pesan yang tersirat adalah kita seharusnya berbakti kepada kedua orang tua. Begitu juga sepenggal cerita hidup saya tadi dimana jalan demi jalan terbuka atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa tentunya atas doa kedua orangtua. So, yuk kita berbakti kepada orang tua kita. Kita sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kita di waktu kecil. Bagi yang kedua orang tuanya masih ada, berlomba-lombalah membahagiakan mereka sekecil apapun bentuknya mumpung masih ada kesempatan. Bukankah kita sewaktu kecil selalu diusahakan mendapatkan sesuatu yang terbaik oleh orang tua kita? selagi kita mampu maka sudah sepatutnya kita berikan yang terbaik juga untuk mereka. Kalau kalian terkendala karena jarak yang jauh dengan orang tua, mungkin karena sedang kuliah, merantau, tugas negara dll. Maka sering-seringlah untuk menelepon mereka, percayalah suara kalian itu sudah sangat membuat kedua orang tua bahagia. Jika kedua orang tua (atau salah satu) sudah meninggal, maka jangan putus-putus untuk mendoakan mereka. Karena yang menemani mereka di alam kubur salah satunya adalah doa dari kita anak-anaknya.
Hormati dan sayangi kedua orang tua kita. Waktu ini terlalu pendek untuk membalas jasa mereka.





Lanjut Sekolah Lagi

Lama sekali tidak menulis di blog ini. Bahkan di sosial media lainnya pun juga jarang nulis sekedar status, komen, tweet atau apalah. Entah mengapa lebih nyaman menjadi penikmat informasi saja alias silent reader di era kebebasan di dunia maya yang menurut saya sudah kebablasan. Tapi akhir-akhir ini saya harus dipaksa nulis. Hukumnya wajib lagi. Haram kalo gak nulis. Hmmm.. wajib nulis seekripppsiii (ngomongnya pake nada komentator tinju pas manggil si petinju naik ring). Wajib kalo mau lulus kuliah sih.  Duh jari-jari kaya udah kaku beku. Begitu juga otak ini, kok jadi "bujel". Tau "bujel" kan? Itu pensil yang bagian karbonnya patah atau ilang. Pastinya buat nulis gak bisa, kalo pun bisa pasti juga gak kebaca... lha wong gak ono karbone...bujelll woy bujjell.

Gak nyangka cepet banget sudah sampai fase ini, padahal rasanya baru kemarin masuk kuliah. Yup setelah kerja kurang lebih 3 tahun di kota seberang. Akhirnya "keberuntungan" kembali menghampiriku untuk kembali menginjakkan kaki ke Jakarta. Keberuntungan itu bernama "Lanjut Sekolah Lagi". Memang ini sebenarnya salah satu "milestone" yang pengen saya capai setelah saya lulus D3. Kerja lalu lanjut sekolah lagi, kalo bisa cari beasiswa, syukur-syukur dapat keterima. Dan alhamdulillah bisa keterima di kampus tempat kuliah D3 dulu. Sebenernya antara percaya atau tidak, sampai saat ini pun masih agak setengah percaya... bisa sampai semester akhir lagi (buseng). Semangka.. semangat kaka.. (opo sih).
Ngalnturnya sudah dulu, sekarang mau bahas yang ada pesan moralnya. Jeng jeng..

Yup, akhirnya bisa lanjutt sekolah lagi... keterima D4..(sambil tarik nafas dalam-dalam). Waktu keterima itu rasanya antara seneng, takut, bahagia, was-was.. campur aduk. Bagaimana tidak, kemampuan saya yang seperti ini bisa "beruntung" lolos seleksi. Saya selalu menganggap hasil yang saya dapat adalah suatu "keberuntungan". Mungkin terkadang ketika saya mengatakan hal tersebut kepada orang lain, mereka menganggap saya terlalu merendahkan diri. Memang sebenarnya diri saya rendah kok, gak lebih dari 165 cm kayaknya hehe. Tapi bagi saya keberuntungan adalah suatu hasil dari formula fungsi usaha keras, tekad, persiapan, doa, kepasrahan, dan faktor-faktor lain yang tidak bakal muat jika ditulis dalam postingan ini. Banyak sekali hal-hal yang bekerja untuk membentuk suatu keberuntungan, tentunya semua itu atas kehendak-Nya. Jadi sungguh tidak pantas ketika saya berhasil mencapai hasil yang baik kemudian dengan jumawa mengatakan "ini karena usaha saya selama ini". Karena menurut saya, hasil baik yang dicapai itu melibatkan proses yang sangat rumit, melibatkan berbagai hal dan ajaib. Betapa tidak rumit, dimulai dari cara kerja otak kita dalam berpikir yang menyambungkan berbagai sel-sel neuron sehingga bisa merespon keadaan sekitar saja sudah hal yang sangat rumit, bahkan sangat ajaib. Maha Besar Allah. Belum lagi proses kita dapat mencapai suatu hasil yang gemilang, tentunya berbagai proses rumit di alam semesta ikut mendukung kita mencapai hasil yang baik tadi.

Sebelum saya lanjut sekolah lagi, saya bekerja di sebuah kota di pulau seberang (saat ini pun masih berstatus pekerja di sana sih). Kota tempat saya bekerja itu relatif kecil, sehingga tidak ada kampus besar disana. Ada sih kampus sekolah tinggi xxx, tapi akreditasinya saya kurang sreg. Sementara saya sudah menetapkan tekad harus "lanjut sekolah lagi" gak cuma D3 (kata temen sih kepanjangannya DorongDorongDus, sesuai dengan pekerjaannya). Setidaknya bisa ke jenjang S1 (kata teman sih kerjanya Santaii), atau sampai S2 (SantaiSantai), atau sampai S3 (SantaiSantaiSekali). Kepanjangan2 itu salah, jangan dijadikan sebagai landasan teori, karena pada faktanya semakin tinggi pendidikan maka tanggung jawabnya pun semakin besar.

Karena tekad saya sudah bulat seperti tahu bulat digoreng dadakan dan rasanya tetep gurih-gurih nyoy.  (Opo meneh sih iki). Intinya saya punya tekad untuk lanjut sekolah lagi. Waktu itu saya berencana setelah diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikan, saya akan mencoba berbagai jalur dan kesempatan yang ada. Tentunya dengan berbagai persiapan yang dilakukan. Jadi waktu itu ketentuannya, saya boleh sekolah lagi asal sudah 2 tahun lebih bekerja. Selama 2 tahun bekerja saya melakukan berbagai persiapan untuk memantaskan diri bisa lolos jalur beasiswa. Jalur beasiswa menjadi target pertama, ya kalo gak lolos sih paling kuliah di "universitas yang tidak tertutup" itu (iykwim). Jadi selama 2 tahun saya melakukan beberapa persiapan. Saya membeli lampu mirip logo pixar, niatnya biar bantu penerangan buat baca buku.. tapi akhirnya buat penerangan main game.. zzz. Terus saya beli meja lesehan, pesen langsung ukurannya dan warnanya, niatnya sih buat alas ngerjain latihan soal dan baca2... tapi ujung2nya tetep buat alas main game. Sungguh persiapan yang gak penting.

Anyway, di sela-sela bekerja saya tetep sempatkan waktu untuk sekedar membaca atau mengerjakan latihan soal. Setiap sarapan pagi di meja kerja, sembari menghabiskan sebungkus nasi atau semangkuk model/tekwan (gak tahu bedanya) saya coba membaca dan mengerjakan soal. Alhasil, setelah sarapan perut kenyang otak melayang. Kalo di kontrakan ada waktu ya saya gunakan untuk sedikit2 baca dan latihan soal. Saya juga manfaatkan handphone untuk menunjang belajar. Memori handphone saya isi file-file ebook atau file-file latihan soal dan kadang saat ada waktu luang (misalnya waktu di toilet sambil BAB)  saya bisa dengan praktis untuk belajar. Oh ya, selain itu saya juga memanfaatkan kertas yang sudah tidak terpakai di kantor (baca/: kertas bekas,/:kertas yang salah ketik) untuk diprint seukuran kantong baju. Nah, ini cukup efektif juga untuk belajar praktis sambil coret-coret di kertas, kalo udah bosen ya tinggal dikantongi (atau dibuang aja). Pokoknya disela-sela bekerja dan tugas negara saya coba sempatkan waktu untuk berpikir dan belajar sebisa saya dan semampu saya. Tentunya dengan diiringi doa agar dimudahkan dalam usaha saya untuk dapat belajar sambil bekerja.

Alhamdulillah setelah mengikuti ujian untuk lanjut sekolah, nama saya ada di dalam pengumuman. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan diiringi keinginan luhur, akhirnya usaha selama ini berbuah hasil yang manis. Rasanya tidak percaya, senang, terharu, campur aduk. Jujur waktu lihat pengumuman saya takut dan minder, dan ada pertanyaan di benak saya. "Apakah pantas saya untuk lulus dan melanjutkan pendidikan selanjutnya? padahal kemampuan saya sendiri ya cuma pas-pasan". Saya masih menganggap ini sebagai keberuntungan. Keberuntungan yang hadir kedua kalinya, pasalnya saya seperti merasakan dejavu seperti waktu dinyatakan diterima pendidikan D3 di kampus yang sama. Ah, benar-benar campur aduk.

Hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Suatu pepatah yang pernah saya dengar dan saya masih sepenuhnya tidak percaya dengan pepatah itu. Jujur saya sempat memiliki stereotype pemikiran  bahwa hasil akhir yang baik adalah suatu keberuntungan, dan hasil akhir yang jelek adalah suatu kegagalan. Betapa jahatnya saya jika memiliki pemikiran itu, seolah2 saya tidak menghargai usaha saya sendiri dan tentunya tidak menghargai campur tangan Yang Maha Kuasa atas doa-doa saya selama ini. Akhirnya saya mencoba mamahami kembali pepatah "hasil tidak pernah mengkhianati usaha (dan doa)". Selama ini keberuntungan yang saya anggap adalah suatu pemberian Tuhan di waktu yang tepat ternyata keliru. Keberuntungan adalah suatu hadiah dari Tuhan atas kerja keras dan usaha yang kita kerjakan diiringi doa baik doa dari diri kita sendiri maupun orang-orang lain yang mendoakan kita yang diberikan kepada kita pada waktu yang tepat (bahkan kita tidak pernah menyangka). Saya tidak tahu ada dalil atau tulisan sebelumnya yang menyatakan seperti ini yang jelas itu yang menjadi pemikiran saya saat ini.

Saya pun saat ini sedang berusaha menyelesaikan skripsi yang telah saya mulai dan harus saya selesaikan, tentunya dengan diiringi doa agar menghasilkan buah yang manis diakhir.

(Ditulis disela-sela mengerjakan skripsi)

Terbanglah yang tinggi kawan

Melihat kawan atau sahabat meraih suatu prestasi, tentunya adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Tapi mungkin di sisi lain kita hanya bisa menggerutu pada diri sendiri, "kenapa saya tidak bisa melakukan hal yang sama?". Perasaan bahagia dan kecewa mungkin sering kita rasakan. Tapi bagaimana pun prestasi yang dicapai seseorang memang perlu diapresiasi. Lalu bagaimana kita harus menyikapi keadaan seperti itu?.

source: http://www.comicvine.com
Kalo aku sih pada dasarnya malah terpacu apabila ada rekan sejawat yang memiliki prestasi luar biasa. Entah kenapa ada dorongan dalam diri untuk membuktikan bahwa saya juga bisa berprestasi. Ya meskipun prestasi yang dibuat tidak sama atau bahkan berbeda bidang. Selalu terpintas dalam diri "kalau dia bisa, kenapa saya tidak". 

Saya bersyukur pernah diberi kesempatan untuk mengenal berbagai teman yang luar biasa dalam hidup saya. Disini saya tidak bermaksud menyombongkan diri karena memiliki teman-teman yang menurut saya hebat. Apalah  gunanya memamerkan prestasi orang lain tapi diri sendiri tidak bisa berprestasi. Kalo orang yang berprestasi menyombongkan diri mungkin ada sisi kewajarannya (meskipun seharusnya gak boleh gitu juga), nah ini yang berprestasi orang lain tapi malah kita yang tidak berprestasi "ndompleng" sombong, ^^. Jangan begitulah. Sekali lagi, tulisan saya ini hanya sekedar berbagi perspektif atas keadaan yang sering kita alami dalam hidup.

Di usia saya saat membuat tulisan ini yaitu 24 tahun, sudah ada rekan saya yang berhasil lulus S-2 di salah satu universitas yang tidak bisa dianggap main-main. Menurutku itu suatu pencapaian yang luar biasa, padahal kami start bersama-sama dari bangku SMP. Sedangkan saya saat ini baru sampai pada jenjang D-3. Mau lanjut kuliah sih, tapi peraturan di instansi saya mengizinkan melanjutkan kuliah asal sudah bekerja beberapa tahun. Memang suatu keanehan, kenapa untuk melanjutkan belajar saja ditahan-tahan. Sebenarnya kalau mau kuliah gak papa sih, karena sejatinya pendidikan adalah hak setiap warga negara. Tapi yang bikin "nyesek", kalo kita gak nurutin aturan tadi kuliah kita tidak akan diakui oleh instansi. Repot. Sudahlah, semoga ada aturan yang lebih bijaksana terkait hal ini nantinya (semoga). 

Oke menyambung tentang teman saya yang lulus S-2 tadi, nah melihat prestasi yang cemerlang seperti itu diraih oleh seorang kawan, tentunya ada rasa kebanggaan tersendiri. Nah disini lah, entah kenapa timbul dorongan pada diri, suatu saat saya pasti akan sampai pada titik yang telah ia capai sekarang.  Tapi entah kapan, yang penting sudah ada niatan mencapainya. 

Ada lagi sahabat saya yang meraih salah satu penghargaan pengusaha muda. Bahkan sampai sering muncul di berbagai media. Memang luar biasa bakat bisnisnya, tidak heran dia bisa meraih prestasi itu. Terakhir melihat dia sedang berdiskusi dan berjabat tangan dengan salah satu menteri di republik ini. Ya meskipun sebenarnya kalo soal jabat tangan dengan menteri sih saya juga sudah pernah, tapi tentunya saya tanpa ada prestasi yang membuat seorang menteri sampai jauh-jauh mendatangi hanya untuk berdiskusi dan berjabat tangan alias hanya kebetulan saja. Eits, malah bahas tentang salaman nih. Kembali ke topik tentang prestasi teman saya yang berhasil menjadi pengusaha muda sukses. Nah lalu di usia yang sama saya masih berkutat dengan bekerja di layar monitor. Dan melakukan pekerjaan yang sama tiap harinya. Tentu dari sisi finansial tidak ada apa-apanya dibanding kawan saya tadi. Tapi yang jelas semua tetap saya syukuri. Namun lagi-alagi pasti ada dorongan dalam diri untuk membuktikan "kalo dia bisa, kenapa saya tidak". Suatu saat pasti saya bisa mencapai titik yang telah dia capai. Amiin.

Sebenernya masih banyak juga kawan-kawan yang memiliki prestasi atau mungkin orang lain yang menginspirasi, tapi mungkin akan menjadi bosan kalo saya tulis satu per satu. Nanti malah kesannya malah menyombongkan prestasi orang lain seperti yang saya singgung di depan tadi. Oke, kesimpulan dari beberapa penggal prestasi kawan-kawan tadi kalo menurut perspektif diri saya ya kalau ada orang lain (terutama sahabat) yang meraih prestasi ada kecenderungan/dorongan untuk membuktikan diri bahwa kita juga bisa. Dengan demikian semakin tinggi prestasi yang didapat orang-orang di sekitar kita, justru membuat kita semakin ingin mencapai titik yang sama atau bahkan lebih. Menurutku ini bukanlah suatu hal yang negatif, toh kita juga tidak didasari rasa iri atas prestasi dia. Justru ini adalah hal yang positif karena kita terpacu untuk lebih mengembangkan diri dan berprestasi. 

Yup, semakin tinggi terbang kawan-kawanmu kejarlah dia, suatu saat kamu tidak akan menyadari kalau kamu ternyata sudah ikut terbang tinggi sampai berada di titik yang sama dengan mereka atau mungkin lebih tinggi. Kalau kamu mengeluh bagaimana caranya terbang karena kamu tidak punya sayap, lihat kawanmu yang sudah jauh tinggi dia tak perlu sayap untuk menuju titik itu.


Malam di Hari Sumpah Pemuda



Beberapa jam lalu sebelum saya membuat tulisan ini, saya masih menghadap layar monitor, sama saat membuat tulisan ini. Namun yang berbeda adalah layar monitor beberapa saat yang lalu itu adalah monitor kantor. Dengan mata yang sudah letih dan terkantuk-kantuk, tetapi entah kenapa seolah ada dorongan untuk tetap bertahan. Pikiran yang sudah tidak fokus pun menjadi ujian dalam kondisi ini. Ibarat seorang pelaut yang menerjang samudera, rasa kantuk, letih dan capek adalah gelombang yang siap menyerang. Namun tetap berusaha bertahan kembali mengerjakan pekerjaan dengan mencoba fokus pada monitor, mencermati angka-angka dan menuangkan kata-kata. Orang-orang di sekelilingku pun telah menghilang satu per satu. Tapi biarlah, yang penting aku tetap mencoba fokus dengan monitorku. Melawan diri sendiri memang ternyata lebih susah, disaat kita ingin tetap melanjutkan pekerjaan, tetapi tubuh kita sudah berteriak mengantuk, letih dan capek.

Mungkin orang di sekitarku bertanya-tanya kenapa kamu memaksakan bekerja sampai larut. Mereka berkata  toh bosmu tidak peduli dengan apa yang kamu kerjakan, toh kamu tidak akan mendapat penghargaan atas apa yang kau lakukan, toh kamu tidak akan mendapat hal lebih dengan hanya mengerjakan hal seperti ini. Bahkan ada yang bilang kamu seperti ini biar mendapat simpati, atau menjadi anak kesayangan bos. Biarlah orang berkata apa, yang penting aku tetap fokus pada monitorku. Waktu semakiin larut dan tubuh ini sudah tidak kuat lagi membendung rasa letih. Aku ajak temanku yang sedari tadi menungguiku.

Sampai di rumah kontrakan aku pun bergegas membuang semua letihku dengan menyiram air ketubuhku, ya sedikit rileks memang. Kemudian ku ambil monitor untuk menulis tulisan ini, dan akupun teringat apa yang telah aku lakukan seharian ini. Aku pun mencoba mencari alasan atas apa yang telah aku kerjakan selama seharian ini sampai malam hari ini. Dan aku memilih alasan “tanggung jawab”, ya tanggung jawab atas apa yang aku kerjakan. Bukan demi simpati orang, bukan demi penghormatan atau penghargaan dan bukan demi uang. Semua ini karena alasan tanggung jawab semata. Dan ketika aku melirik ke kalender untuk merencanakan hari esok, ternyata hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda yup tanggal 28 Oktober. Kemudian aku tambahkan lagi bahwa hari ini adalah alasan kenapa aku menjalani hariku ini. Ya seorang pemuda harus bertanggung jawab atas semua hal yang dia kerjakan.

Prestasi Menentukan Posisi atau Posisi Menentukan Prestasi?

Suasana kerja di kantor hari ini terasa kurang kondusif (atau cuma pikiranku saja yang sedang tidak kondusif? entahlah). 
Setelah sedikit ngobrol dengan rekan kantor untuk relaksasi pikiran. Ada kata-kata yang sedikit menyentil pikiran "prestasi menentukan posisi atau posisi menentukan prestasi". Awal muncul kata-kata tersebut adalah ketika kami sedang membicarakan masalah promosi di kantor. Dan kalau bicara soal promosi, pasti tidak jauh-jauh dari yang namanya posisi atau jabatan.

Dalam bekerja masalah penempatan, mutasi (perpindahan) dan promosi (kenaikan jabatan) adalah sesuatu yang biasa. Hal-hal tersebut bagian dari dinamika kerja dalam organisasi. Tentulah di antara sekian banyak pekerja harus ada yang menjadi pemimpin dan harus ada yang dipimpin. Pemimpin suatu saat juga akan digantikan oleh yang terpilih di antara yang dipimpin. Demikian juga dengan pekerja yang sudah purna tugas akan digantikan dengan manusia-manusia baru. Begitu seterusnya.

Selain itu, dalam organisasi juga harus ada pemerataan sumber daya manusia, pemerataan kemampuan setiap pekerja dan pemerataan pengalaman. Pemerataan tersebut dibutuhkan dalam suatu organisasi, agar organisasi tersebut terus berjalan kondusif dengan segala tantangan yang ada dan mencapai tujuan yang diinginkan. Untuk itulah dilakukan mutasi dan promosi seperti yang saya singgung diawal tadi dengan maksud agar bisnis suatu organisasi dapat terus berjalan dan pada akhirnya meraih tujuan yang diinginkan.

Namun setelah saya berpikir lagi tentang hal tersebut. Timbul pertanyaan. Apa kriteria seseorang untuk mendapatkan suatu posisi tertentu?. Apa korelasi prestasi yang dicapai dengan posisi yang diduduki?. atau pertanyaan seperti dalam judul tadi, prestasi menentukan posisi atau posisi menentukan prestasi?.

Mungkin ketika sekolah atau kuliah, istilah "posisi menentukan prestasi" sering kita dengarkan. Misalnya bila tempat duduk ujian kita di bangku paling depan maka kebanyakan prestasinya cenderung kurang baik (entah itu faktor tekanan psikis kebanyakan orang atau karena tidak bisa tanya teman, hehe, entahlah). Ada juga yang mengartikan jika posisi kita dekat (akrab) dengan dosen/guru maka urusan nilai sudah pasti beres. Sekali lagi, entahlah.

Nah, apakah di dunia kerja istilah seperti itu tetap berlaku?. Sekali lagi saya tegaskan dalam dunia kerja semuanya bisa terjadi. Unpredictable. Akan tetapi, istilah yang tepat digunakan mungkin kebalikannya yaitu "prestasi menentukan posisi". Dalam dunia kerja, hubungan variabel posisi dan prestasi jelas terkait sekali, bahkan tidak bisa dipisahkan. Namun, posisi tidak hanya terkait dengan variabel prestasi semata. Masih ada variabel kemampuan (baik soft skills dan hard skills), perilaku, integritas dll. Posisi yang diduduki seseorang dalam suatu organisasi pastilah tidak jauh kaitannya dengan prestasi yang dicapai. Prestasi yang dimaksud tentunya dalam berbagai aspek, misalnya prestasi terkait target yang dicapai, prestasi menyelesaikan suatu masalah tertentu, prestasi dalam disiplin, prestasi dalam kejujuran, dll.

Lalu bukan berarti istilah "posisi menentukan prestasi" tidak berlaku juga. Jika kita berada dalam posisi di sekitar orang-orang yang mendukung untuk maju. Pasti prestasi bagus juga akan dapat kita capai. Selain itu, faktor relasi dengan banyak dengan berbagai orang (bisa kita analogikan sebagai variabel posisi) dapat mendukung kita meraih prestasi dalam bekerja. Jadi, "posisi menentukan prestasi" menurut saya juga tidak salah, selama tidak melanggar peraturan dan dalam konteks yang positif.

Menurut saya entah itu prestasi yang menentukan posisi ataukah posisi yang menentukan prestasi, semuanya sama saja. Tergantung sudut pandang kita menyikapinya. Toh selama kita bekerja dengan baik, penuh semangat, dan kerja keras, prestasi atau pun posisi akan datang menghampiri kita.Yang terpenting jangan jadikan keinginan meraih posisi tertentu menjadi tujuan kita dalam bekerja. Karena dengan demikian kita tidak akan bisa bekerja dengan nikmat dan menikmati pekerjaan. So just enjoy your work.

Militan?

Matahari mulai terbenam di ujung barat. Pemandangan itu terlihat jelas dari jendela sebuah gedung di Jakarta. Bak sebuah lukisan beraliran realisme dalam sebuah bingkai jendela. Petang itu seorang pegawai masih mengerjakan tugasnya, padahal jam kerja sudah habis. Sementara di bangku seberang mejanya terlihat para atasan sedang berbincang-bingcang.

"Pegawai seperti apa yang anda butuhkan Pak?", seloroh seorang atasan kepada atasan lain.
"Saya butuh pegawai yang tidak perlu pinter-pinter banget, yang penting mau kerja dan militan." sahut atasan yang ditanya tadi.
"Mmm...", timpal atasan yang bertanya sambil tidak berkomentar. Entah apa kelanjutan percakapn mereka.

Sejenak si pegawai menghentikan pekerjaannya dan berpikir tentang sebuah kata "militan". Dalam hatinya sedikit terganjal dengan kata itu. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan pun diabaikan begitu saja. Fokusnya sudah hilang karena sebuah kata "militan". Dalam pikiran ia terus mencari-cari apa maksud militan tersebut. Apakah yang dimaksud militan itu adalah seperti tentara militer? atau seperti para pahlawan kemerdekaan? atau seperti tokoh-tokoh super hero (Batman, Superman, Spiderman, P-Man?). Pikirannya terus membayangkan tentang apa yang disebut militan.

Ya masa seorang karyawan yang mengurusi administrasi dan berhubungan dengan berkas-berkas harus bekerja layaknya tentara atau pejuang atau superhero? pikirnya sambil tertawa geli membayangkanya. Lalu si karyawan tersebut mulai membayangkan tentang militan tersebut, apakah seperti tentara? yang harus melaksanakan segala perintah komandan tanpa terkecuali. Kalau seperti itu harus perintah yang salah pun berarti harus dilakukan. Komandan bilang maju ya harus maju, komandan bilang mundur ya harus mundur, meskipun di depan dan di belakang adalah jurang. Kalau seperti itu tentu saja tidak bisa dilakukan, namanya bekerja kan harus profesional dan sesuai aturan, bukan sesuai perintah bos.

Atau seperti pejuang? ya kalau pejuang lebih ngeri lagi. Dia berjuang sampai dengan darah penghabisan. Lalu apakah harus bekerja dengan mempertaruhkan nyawa. Hmm... sepintas apa yang dia bayangkan menjadi gelap, dan tidak mau lagi melanjutkan bayangannya tadi. Lalu kemudian dia mulai tertawa sendiri, ketika membayangkan bekerja dengan sebuah kostum superhero entah itu kostum Batman atau Spiderman atau bahkan P-Man. Tentu sangat lucu apabila ke kantor dan bekerja di depan komputer dengan kostum seperti itu.

Sembil tersenyum sendiri dan kadang tertawa geli, si karyawan tersebut terus membayangkan hal lucu tadi. Tiba-tiba lamunannya dikagetkan dengan suara besar dan tegas, dan sepertinya suara itu tidak asing di telinganya.
"Ehmmm....". bunyi suara itu.
"I..i..yaa.. Pak". sahut si karyawan tadi.
"Sedang apa kamu?", imbuh suara besar tadi yang tidak lain adalah bosnya.
"Se..sedang mengerjakan pekerjaan untuk rapat besok Pak". jawab si karyawan tadi.
"Hmm.. bagus, seperti ini pegawai militan yang saya butuhkan." tegas si bos tersebut dengan menepuk pundak si karyawan.
 Si karyawan tersebut pun seketika terdiam setelah mendengar perkataan tersebut. 
 

Kerja Keras VS Status Akademis

Sebuah paradigma baru dalam dunia kerja, ketika etos kerja seakan terlihat sumir dibanding derajat pendidikan yang dimiliki seseorang. Mungkin hal seperti itu yang tengah terjadi dalam dunia kerja saat ini. Dimanapun tempat bekerjanya (entah itu swasta, BUMN, pemerintah maupun wiraswasta). Hal seperti ini akan sering dijumpai. Mindset para perekrut tenaga kerja atau atasan, lebih melihat status akademis seseorang dari pada etos kerja yang ada. Tidak dipungkiri semakin maju zaman, semakin diperlukan sumber daya manusia yang kompeten, dan salah satu "indikator instan" untuk menentukan kriteria "kompeten" adalah status akademis. Semakin tinggi akademis seseorang maka "nilai jualnya" pun akan semakin tinggi.

Ya beginilah keadaannya, itulah realita yang harus dihadapi. Mungkin kini banyak orang-orang yang berlomba-lomba mencari gelar kesana kemari. Hanya demi sebuah pengakuan yang tersemat pada namanya. Padahal tidak sedikit juga mereka yang mendapatkan gelar atau status akademis dengan cara yang tidak benar.

Lalu bagaimana jika seseorang memiliki etos kerja tinggi dan ulet, tetapi status akademis mereka tidak diperhitungkan? Ini juga kelanjutan realita tadi. Tidak ada jalan lain selain menghadapi tantangan dan  membuktikannya. Bukan berarti seseorang yang tidak bersekolah sekalipun harus kalah dengan seorang professor. Jika orang yang tidak bersekolah tersebut mau bekerja keras, jauh lebih baik daripada seorang professor yang hanya pandai beretorika saja.

Pada intinya semua bermuara ke kerja keras. Percuma embel-embel gelar yang panjang tanpa ada kontribusi nyata. Apalagi yang gag punya gelar dan tidak memiliki kontribusi, mau jadi apa??. Tapi sebaliknya dengan kerja keras, sepanjang maupun sependek apapun gelar akademis, maka  kesuksesan akan datang menghampiri. (Sebuah catatan dari pengalaman hidup).

Kata-kata ringan penuh makna

Dalam berinteraksi dengan sesama entah itu teman, saudara, rekan kerja, kolega atau bahkan atasan mungkin kita sering melupakan beberapa kata-kata atau ucapan seperti yang ada di bawah ini. Mungkin terkesan simpel, sepele, ringan atau bahkan banyak yang menganggap suatu basa-basi. Tapi sesungguhnya memiliki makna yang luar biasa apalagi bagi yang mendengarnya. Serta menimbulkan suatu ikatan emosional (batin) baik yang mengucapkan atau yang mendengarkan. Kata-kata itu adalah

1. Terima kasih
Biasakanlah mengucapkan "terima kasih" jika kita telah ditolong atau telah diberi sesuatu oleh siapa pun, jika kita tidak bisa membalas pemberian atau pertolongan itu, setidaknya kita telah membalas dengan ucapan tersebut. Dengan mengucapkan "terima kasih" membuat orang yang memberi ataupun menolong menjadi ikut bahagia. Dan bayangkan jika kita yang memberi atau menolong, dengan mendengar kata tersebut membuat kita tersenyum sekalipun kita menolong dengan mengorbankan diri kita.

2. Maaf
Jika kita melakukan kesalahan kepada orang lain baik disengaja ataupun tidak. Sudah sepantasnya kita meminta maaf kepada orang tersebut. Kata tersebut paling tidak bisa meredakan marah dari orang yang kita buat salah, selain itu dengan ucapan maaf membuat satu sama lain tidak memendam dendam. Jika orang tersebut tidak mau memaafkan kita, ya terserah dia yang jelas kita sudah meminta maaf. Tuhan saja Maha Pemaaf, masa kita?

3. Tolong
Nah, ini kata yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang. Terkadang kita menyuruh orang lain (entah itu siapa saja) tanpa didahului kata "tolong". Kata yang sepele, namun terkadang bisa membuat orang lain tersinggung. Misalnya kita menyuruh teman kita mengambilkan minum dengan perkataan, "Ambilin gue minum dong!". Meskipun kita tidak bermaksud menyuruh mereka, namun hal tersebut seakan-akan kita semena-mena dan kurang sopan bahkan mungkin membuatnya tersinggung karena seperti pesuruh saja. Hal ini lebih pada sisi kesopanan dan menjaga perasaan. Ingat, kita sama dengan teman kita tidak ada yang lebih di atas atau di bawah. Untuk itu setidaknya setiap menyuruh orang lain kita tambahkan kata "TOLONG" didepannya. Bayangkan jika menjadi yang disuruh tanpa ucapan "tolong"?

4. Hati-hati
Kata-kata yang sering kita ucapkan saat mengantar seseorang yang akan pergi atau meninggalkan kita. Mungkin sepintas terdengar sebagai suatu basa-basi, tapi bagi yang mendengarkan kata tersebut tentunya akan merasa senang karena mendapat perhatian dari orang lain. Setiap manusia tentu membutuhkan perhatian. Dan mungkin dengan kata ringan tersebut yang kita ikhlas ucapkan untuk teman, keluarga dan orang lain saat pergi meninggalkan kita bisa membuat mereka menempuh perjalanan dengan selamat sampai tujuan dan setidaknya menyumbang perhatian kita kepada sesama. Ya sesama manusia harus saling memberi perhatian, itulah kehidupan.

Mungkin itu dulu yang bisa saya tulis (udah buntet pikiran),  udah malem juga, saatnya pulang kantor dan kembali ke kost untuk melepas lelah. Semoga kita bisa menyempatkan bibir dan lidah kita untuk mengucap kata-kata tersebut kepada siapa pun.  ^^

Sepenggal Cerita Tentang Adikku


       Sudah sejauh ini waktu berjalan, tak terasa kini ku semakin tua digerus usia. Setiap gelap malam datang menjemputku ke dalam buaian tidur yang lelap, seketika itu juga aku selalu menerawang jauh ke masa lalu dan masa depan. Malam ini, ketika tulisan ini aku ketik, tepat sesaat sebelum aku tidur. Tiba-tiba aku teringat tentang sosok kecil dan kurus. Ya dialah adikku, usiannya 12 tahun. Terlintas peristiwa siang dan sore tadi. Siang tadi, sepulangnya ia dari sekolah, kami pun bercanda ria. Saling mengejek dan beradu tangan, setelah itu dia bergegas menuju meja belajar. Katanya sih mau belajar. Tumben hari ini selepas sekolah dia langsung belajar, biasanya langsung merenggek minta bermain game. Dia memang anak yang unik. Terkadang dia nurut sekali,  meskipun sebenarnya ada maunya. Namun tidak jarang dia keras kepala minta ampun sampai apa saja bakal dilawannya. Tapi yang saya salut dari dirinya adalah dia sudah dapat mencerna dan mudah bila diberi penjelasan, bahkan penjelasan itu sebenarnya untuk pikiran seseorang yang sudah dewasa. Maksud saya adalah cara berpikirnya bisa dikatakan jauh melebihi umurnya, tentunya cara berpikir yang positif. Motivasi dan rasa ingin tahunya juga sangat tinggi. Tapi kadang-kadang selalu angin-anginan (moody). Ya sedikit seperti saya.[....]

Secangkir semangat, seteguk kebahagiaan



Sebuah sajak

Pagi ini sama dengan pagi-pagiku sebelumnya

Matahari masih terbit dari ujung timur rumahku

Ayam berkokok bersahutan seakan menjadi backsound suasana ini

Anggapan di desaku, pagi hari adalah awal dari datangnya rizki

Jika kau tak mendapatkan pagimu, kau tak akan mendapat rizkimu

Ya itulah yang selalu didengungkan orangtuaku

Terkadang kata-kata itu digunakan untuk membangunkanku dari mimpi indah di tidurku

Dulu ketika aku kecil, saat aku masih kecil sekali, sehingga kini aku lupa seberapa kecilnya aku dulu

Di jalan, depan rumah Eyangku yang kini telah tiada

Banyak sekali hilir mudik manusia menapakkan langkahnya di setiap pagi

Baik laki-laki maupun perempuan, dari  yang muda sampai tua

Para perempuan menggendong  hasil kebun, kerajinan ataupun makanan  di punggungnya untuk dijual di pasar

Pak tani mengayuh sepeda kerbau dengan cangkul yang disampirkan pada pundaknya yang kekar menuju tanah subur untuk mengolah sawah

Sedangkan anak-anak berjalan beriringan menuju sekolah mereka untuk mencari secercah ilmu untuk bekal hidupnya

Terlintas dalam benakku kala itu, wajah-wajah ceria di pagi hari yang penuh pengharapan

Ya harapan untuk mendapatkan sesuatu, sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin

Suasana seperti itu pun masih kurasakan hingga kini, masih jelas terasa

Mungkin yang sedikit membedakan adalah kini jalan itu dilalui oleh orang-orang  yang tergesa dengan  menaiki mesin beroda mereka

Sehingga backsound di pagi hari yang biasa dinyanyikan oleh ayam, kini berduet dengan instrumen bernada keras dari knalpot

Dulu atau sekarang, suasana di pagi hari kampung halamanku memang begitu  luar biasa

Penuh dengan semangat, penuh dengan pengharapan dan penuh dengan kebahagiaan

Aku tidak akan kalah dengan mereka yang bersemangat menyambut pagi ini

Ku awali semangat pagiku ini dengan membuat sajak kecil ini

Walaupun hanya sekedar tulisan, kuingin merekam suasana yang tak terlukiskan 

Agar selalu terkenang ketika suatu saat nanti aku harus pergi meninggalkan pagi indah di tanah kelahiranku ini

Ku menerawang jauh semua ini dari kursi meja makan dan memandang lepas ke jalan

Ditemani secangkir kopi, minuman yang memliki perpaduan rasa pahit dan manis

Yang tak ubahnya seperti hidup yang aku jalani hingga kini aku meneguk minuman itu

Mentari dari timur, lalu lalang manusia, suara ayam, deru mesin berroda yang tergesa dan secangkir kopi

Perpaduaan yang luar biasa untuk menumbuhkan kembali semangat hidup yang baru

Bahwa pagi ini harus dimulai dengan mengerjakan sesuatu, bukan hanya diam terpaku dengan lelap mimpi indah tadi

Sebuah sentakan yang tiba-tiba terlintas di pikiran, ketika tegukan  kopi terakhirku melintasi kerongkongan 

Secangkir semangat di pagi hari, ditutup dengan seteguk kebahagiaan mengawali hari, untuk meraih kebahagiaan hidup yang sejati

Selamat pagi dunia!

Mr. A

Lagi pengen buat puisi

Hujan di sore hari


Sore ini langit hitam kelam
Awan-awan tampak terlihat muram
Angin kencang bersaut-sautan
Pertanda akan turunnya hujan
Aku duduk termenung di balik jendela
Menerawang  jauh ke angkasa
Kulihat dedaunan bergoyang terhempas angin
Kulihat burung-burung berlomba pulang ke sarang
Bahagia, sedih dan takut di dalam hati
Suasana cerah siang tadi kini berganti
Tetesan hujan mulai jatuh dari cakrawala
Membasahi tanah yang telah lama menahan dahaga
Pepohonan pun menyambut turunnya butir demi butir air
Aroma khas tetesan kehidupan pun tercium semerbak
Aku masih duduk di balik jendela
Tak terasa hujan semakin lebat mendera
Kini hanya ditemani gemericik air dari  genting
Udara dingin pun kini terasa menusuk tulang
Mengiringi sore yang berganti petang
Suasana hujan sore ini akan kukenang dalam ingatan