Tips Belanja di Pasar Swalayan atau Minimarket

Zaman seperti sekarang semua serba dituntut praktis dan tidak ribet. Salah satunya adalah dalam hal berbelanja. Tradisi belanja ke pasar kini sudah mulai ditinggalkan beberapa masyarakat, khususnya yang di kota-kota. Mereka lebih memilih untuk berbelanja di pasar swalayan atau mini market.. Alasannya simpel saja, di swalayan lebih bersih, dingin karena ada ac, bisa ambil sendiri, produk yang ditawarkan lebih beraneka ragam dan hampir semua ada. Bahkan akhir-akhir ini masyarakat di pinggiran kota atau di desa sekalipun sudah akrab dengan belanja di mini market. Hal ini dikarenakan perkembangan bisnis minimarket di negara ini sudah menggurita begitu cepatnya, hampir di setiap kecamatan sudah berdiri minimarket-minimarket. Nah, karean berbelanja di minimarket atau pasar swalayan sudah menjadi kebiasaan warga di Indonesia, disini saya ingin sekedar berbagi tips saat berbelanja di minimarket atau swalayan. Tentunya tips ini saya peroleh berdasarkan pengalaman-pengalaman saya selama ini, hehe. Semoga bermanfaat.

1. Bawa dompet (harus ada isi uang, kredit card/debit card, pokoknya yang bisa untuk bayar)
Yup, sebelum anda ke mini market/swalayan. Hal pertama yang harus anda cek adalah apakah di dompet sudah ada di kantong/tas anda. Jangan sampai hal ini terlupakan, karena akan berakibat fatal bagi diri anda. Coba bayangkan, saat anda asyik mengambil barang-barang di minimarket/swalayan dan dengan santainya memasukkan barang ke troli atau keranjang, kemudian saat ke kasir tiba-tiba dompet anda tertinggal di rumah. Pasti rasa malu akan menyelimuti hari anda. haha.Sering kali kita juga lupa membawa uang cash di dompet, untuk itu perlu juga kartu kredit atau debit didompet sekedar untuk jaga-jaga jika tidak ada uang cash.

2. Beli barang sesuai kebutuhan 
Yang kedua ini masih ada kaitannya dengan tips pertama tadi. Sebelum anda ke minimarket terdekat, pastikan anda tahu akan membeli apa saja di sana. Tentunya harus dipertimbangkan dengan isi uang yang ada didompet. Jangan sampai karena melihat barang menarik yang tinggal ambil, kita tidak mempertimbangkan jumlah uang yang dibawa. ujung-ujungnya saat anda mendekat ke kasir ternyata apa yang anda beli melebihi uang yang anda bawa. Malu lagi deh. ^^

 3. Siapkan daftar yang ingin dibeli
Untuk memudahkan membeli barang dan menyesuaikan dengan isi kantong. Tidak ada salahnya untuk membuat daftar/catatan kecil tentang barang apa saja yang akan kita beli. Ini juga mencegah kita membeli barang sekedar karena keinginan saja, tapi sebenarnya tidak kita butuhkan.

4. Pastikan harga yang tertera di price tag adalah benar
Nah, ini juga ada korelasi dengan tips sebelumnya. Biasanya pihak minimarket atau swalayan lupa mengupdate harga untuk tiap-tiap barang, atau mungkin price tag tersebut sebenarnya untuk produk lain yang berdekatan. Sehingga terkadang pembeli salah mengambil dan memperkirakan harga sebenarnya. Nah agar tidak salah pastikan nama produk serta harga yang tertera di price tag sama dengan produk yang ingin anda beli. Kalo masih belum yakin, menurut saya anda tanyakan lagi kepada karyawan minimarket.

5. Jangan terpesona dengan diskon
Seringkali untuk menarik perhatian pengujungnya, minimarket/swalayan memberikan harga promo atau diskon. Misalnya saja beli 1 gratis 1, atau beli kombinasi 2 produk maka dapet potongan harga dsb. Nah untuk yang satu ini, diperlukan kebijakan anda sendiri. Sebaiknya jangan terlalu terpesona dulu dengan penawaran yang diberikan. Pertimbangkan manfaat yang akan didapat jika membelinya, 
Saran saya jika barang yang didiskon itu tidak bisa busuk serta merupakan kebutuhan sehari-hari, maka beli saja. Misalnya detergen, sabun, shampoo, pasta gigi dll.  Itu semua kan kebutuhan sehari-hari kita yang habis pakai dan tidak bisa busuk. Jadi apabila kita bisa mendapatkan harga murah dengan kuantitas yang lebih banyak, kenapa tidak dimanfaatkan diskon yang ada. Tapi juga harus ingat stok yang masih ada di rumah.
 
6. Perhatikan tanggal kadaluarsa (expired date) produk
Ini juga hal yang tidak kalah penting, biasanya karena kita melihat barang yang kita ininginkan, langsung sja comot sana compot sini. Padahal belum tentu yang kita ambil tersebut masa kadaluarsanya masih lama atau bahkan sudah tidak layak dikonsumsi. Nah, jadi mulai sekarang sebelum membeli produk di minimarket, lihat dulu tanggal kadaluarsanya. Memang sih ini seharusnya menjadi tanggung jawab pihak penjual, tapi akan lebih baik kita berhati-hati sebelum membeli barang karena taruhannya adalah kesehatan diri kita dan keluarga.

7. Memiliki card member kadang membantu
Sekarang ini banyak minimarket yang menawarkan kartu anggota kepada pembelinya. Kartu tersebut biasanya ditawarkan kepada para pembeli dengan iming-iming diskon harga atau poin hadiah. Apabila intensitas anda sering dalam berbelanja ke minimarket/swalayan tersebut, maka menurut saya tidak ada salahnya untuk memiliki member card tersebut. Biaya membuat member card tersebut juga relatif murah. Bahkan ada minimarket yang membuat sistem debet card pada kartu anggotanya, jadi kita tidak harus membawa uang tunai cukup dengan kartu anggota saja saat berbelanja (tapi ingat juga isi saldonya..^^). Lumayan kan dapet potongan harga atau undian berhadiah (kalau beruntung).

8. Minta struk belanja
Tips terakhir dari saya yaitu sebelum meninggalkan minimarket, mintalah struk belanja anda kepada kasir. Hal i ni untuk mengecek barang apa saja yang anda beli, apakah harganya sesuai dengan price tag atau berapa jumlah kembalian yang semestinya dll. Sebelum meninggalkan minimarket/swalayan cek dulu jumlah dan harganya, karena terkadang kasirnya melakukan kesalahan dalam input atau scan barcode produk. Ya wajarlah kasir juga manusia ^^. Kalau ada yang tidak beres silahkan selesaikan dengan kekeluargaan dengan si kasir tersebut (gak usah pake marah-marah). Biasanya kalau uang kembalian kurang atau uang yang dibayar kelebihan banyak orang yang marah. Giliran uang kembalian yang dikasih kasir kelebihan, langsung aja nyelongng pergi. Hmm. ^^

Mungkin itu saja tips dari saya, semoga bermanfaat. haha. Selamat berbelanja.


Cari Ilmu Sampai ke Lahat

"Carilah ilmu sampai ke liang lahat", sebuah quote yang setahun ini mulai akrab di pikiran saya.  Quote yang artinya mencari ilmu selagi kita hidup hingga nanti kita ke liang kubur/mati. Untaian kalimat itu begitu mendengung keras di telinga saya. Ya itu semua berawal setelah amplop penempatan dikeluarkan, dan membawa langkah kaki ini menuju ke suatu daerah bernama Lahat. Nama daerah yang jujur baru saya tahu ketika saya membuka amplop itu, sebuah kota yang belum pernah saya injak sebelumnya.

Kabupaten Lahat terletak di propinsi Sumatera Selatan, tepatnya 6 jam perjalanan menggunakan mobil travel atau kereta api dari ibukota propinsi Palembang. Perjalanan menuju Kabupaten ini relatif berliku melewati bukit-bukit, tentunya tidak senyaman perjalanan melalui jalur Pantura. Dan ternyata tidak sedekat bayangan saya dan perkataan orang-orang. Meskipun terletak di propinsi yang relatif dekat dengan Pulau Jawa (secara radius di peta ^^). Tapi kenyataannya akses menuju kantor penempatan di Lahat cukup sulit dibanding kantor-kantor di daerah lain yang relatif dekat dengan bandara, sehingga tidak memerlukan perjalanan darat yang cukup lama. Untuk informasi saja perjalanan saya dari rumah (Sukoharjo) menuju ke Lahat kurang lebih 17 jam (sudah termasuk perjalanan pesawat yang harus transit dulu ke Jakarta dan menunggu berjam-jam untuk terbang ke Palembang).

Sudahlah, bukan waktunya mengeluh akan jarak dan waktu. Kalau memang seperti itu keadaannya yang harus dijalani, maka jalani saja. Toh pasti ada rencana yang disiapkan Tuhan untuk saya (entah apa itu, dan saya yakin itu yang terbaik..amiin). Walaupun setelah mengetahui kota penempatan itu, saya berpikir bagaimana saya akan menjalani hidup di tempat yang baru ini? bagaimana saya mengisi hidup di tempat yang baru selain untuk bekerja? apa yang akan saya lakukan untuk menghilangkan kejenuhan di tempat ini? apa yang akan saya lakukan ketika jauh dari orang yang saya cintai?. Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti dalam pikiran dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul.

Kembali ke quote yang di atas, rasanya pas menyandingkan makna dalam quote tersebut dengan kehidupan yang akan saya jalani ke depannya di tempat baru itu. Saya menuju kota Lahat ini untuk belajar dan mencari ilmu, ya belajar tentang pekerjaan yang saya jalani, belajar untuk menjadi insan yang lebih baik dan belajar tentang arti  kehidupan. Bukan hanya sekedar mengabdi dan bekerja mencari penghasilan semata. Ya mungkin itu alasan yang tepat agar saya bisa bertahan di tempat baru. Setidaknya dengan niatan seperti ini, mungkin akan berguna bagi kehidupan saya nantinya.

Amplop Penempatan

Seperti biasa, pagi itu semangat untuk bekerja masih luar biasa militan layaknya hari-hari yang lalu. Tidak terpikir bahwa hari itu adalah penentuan dimana saya dan teman-teman seperjuangan (magang) akan ditempatkan. Dari pagi hingga siang asyik bekerja dengan sok sibuknya (haha), tanpa merasa keadaan ini mungkin akan berubah dalam hitungan jam. Saat istirahat, barulah sedikit demi sedikit aura dan suasana yang aneh terasa. Diawali dengan ingat tentang kado, ya seluruh teman-teman seperjuangan diharapkan membawa kado seharga 10 ribu – 30 ribu rupiah untuk acara sore nanti, apalagi kalau bukan acara pengumuman nasib.

Perut yang sudah keroncongan dari tadi pagi pun sudah minta diisi ulang. Saatnya menuju “forum kantin pojok”, kenapa saya sebut forum? Karena di situ sering dijadikan tempat teman-teman seperjuangan untuk sarapan dan makan siang sambil ngobrolin suka duka pekerjaan atau sekedar ngbrol santai ngalor ngidul. Selepas makan siang, saatnya bergabung dengan “forum bawah tangga masjid”, di sini hampir sama dengan forum sebelumnya, mungkin yang membedakan adalah anggota forumnya yaitu teman-teman yang sudah selesai sholat Dhuhur (sebagian juga ada yg belum sholat sih) dan topiknya mungkin agak serius (haha). Selesai mengikuti kedua forum tersebut barulah berburu kado, rencananya sih kado itu buat acara tuker-tukeran kado dengan teman-teman seperjuangan yang barangkali ditujukan untuk sekedar penetralisir shock yang mungkin akan terjadi setelah membuka “amplop nasib” nanti (hehe).

Matahari semakin mengelincir ke arah barat, seiring semakin dekat pengumuman penempatan akan digelincirkan (bahasa opo iki). Ternyata sekonyong-konyong (apa pula ini), acara sore itu dimajukan setengah jam lebih cepat. Denyut jantung masih biasa saja, bahkan belum ada bayangan/perkiraan/cenayang di mana saya akan di tempatkan. Ya perasaannya masih biasa-biasa saja seperti biasanya, seolah-olah menghadapi hari yang biasa-biasa saja padahal ini hari yang gak biasaa.

Kami pun berkumpul di ruang penentuan, hmmm entah sudah berapa banyak anak manusia (senior) nasibnya ditentukan di ruangan ini dan kini adalah giliran kami. Begitu masuk ruangan ini suasana “biasa” tadi berubah seketika, mata berair-air dan senyum yang tidak bisa menutupi kegelisahan yang terpancar dari setiap wajah. Sembari menunggu kedatangan pimpinan, semua sibuk menghafal beberapa hal yang sering ditanya oleh pimpinan (mungkin berharap kalau bisa menjawab pertanyaan akan merubah semuanya, padahal logikannya keputusan sudah ditandatangani dan dimasukan dalam amplop, berubah? gak mungkin kayaknya).

Acara pun dimulai dengan pengarahan dari pimpinan tertinggi di instansi ini. Pengarahaan berjalan dengan santai namun serius, tetapi suasana berubah sedikit tegang ketika beliau mengetahui ada beberapa peserta berbicara sendiri saat pengarahan. Namun semua berjalan normal kembali, sampai akhirnya hal yang ditunggu-tunggu tiba. Apalagi kalau bukan pembagian amplop penempatan. Sebelum pembagian amplop, kami diberi waktu 10 menit untuk menunaikan sholat Ashar (padahal waktu itu sudah mendekati waktu Maghrib, maklum protokoler).  

Tibalah saatnya untuk pembagian amplop penempatan, di dalam sepucuk amplop itulah masa depanku untuk beberapa tahun tertulis jelas. Kami dipanggil satu per satu ke depan untuk menerima amplop, kemudian dipersilahkan keluar untuk membuka amplop tersebut. Jantung semakin berdetak kencang ketika satu per satu teman keluar ruangan. Dan... tibalah saatnya namaku dipanggil ke depan, dengan langkah tegap cepat menutupi keresahan saya jemput amplop itu. Sedikit gemetar ketika menerima amplop itu, ternyata amplop yang ditunggu2 selama ini ringan sekali (tapi tidak seringan memikirkannya).

Sampai di luar sudah banyak teman-teman yang tertawa, sedih, menangis, bahkan tanpa ekspresi sama sekali. Aku duduk di kursi dan mencoba menarik napas panjang, menyiapkan segala mental menghadapi kenyataan yang akan kubaca sebentar lagi. Dan ketika aku buka, di  bagian paling bawah halaman pertama dari dua halaman tertulis nama saya dan di tempatkan di kabupaten Lahat. Nama daerah yang masih asing bagiku, bahkan waktu itu aku tidak tahu dimana tempat itu berada. Sempat terdiam sejenak, tapi entah kenapa perasaanku lega. Ya sudah ini memang yang ditakdirkan untuk saya, pasti ada hikmahnya dari keputusan ini. Begitu selesai membacanya kemudian saya menghampiri satu per satu teman saya dan menanyakan penempatan mereka.  Banyak yang menanyakan “Lahat itu dimana sih?”, dan saya pun tidak tahu juga dimana itu (ironis). Dari pertanyaan itulah pikiran saya mulai tidak tenang. Tapi akhirnya mendapat sedikit pencerahan dari salah seorang teman kalau Lahat itu berada di daerah Sumatera Selatan deket Palembang, ya setidaknya masih kawasan Indonesia Barat. Perasaan pun kembali sedikit tenang, tapi tetap aneh juga ketika saya menyebut nama kota itu ..”Lahat”.